Fri. Dec 6th, 2019

Hamdan Zoelva : Munculnya Rasa Kebangsaan Diawali dengan Berdirinya Sarekat Dagang Islam pada Tahun 1905

2 min read

Painan, SuaraSI.com – Rasa kebangsaan pertama kali dimunculkan di Indonesia pada tahun 1905 yang ditandai dengan kelahiran Sarekat Dagang Islam (SDI) oleh Haji Samanhudi di Laweyan, Solo pada tanggal 16 Oktober.

Hal ini disampaikan oleh Dr. Hamdan Zoelva saat memberikan materi dalam dialog kebangsaan dengan tema “Merajut Persatuan dalam Kebhinnekaan” di Painan Convention Center (PCC), Painan, Pesisir Selatan, Senin (29/7).

“Landasan lahirnya kebangsaan merupakan keinginan kita untuk bersatu. Disebabkan karena senasib dan sepenanggungan. Mengalami rasa hendak bersama-sama,” tambah Hamdan yang juga Ketua Umum Lajnah Tanfidzyiah/Pimpinan Pusat Syarikat Islam.

Hamdan menjelaskan tumbuhnya kebangsaan diawali oleh SDI tahun 1905 dengan mengusung semangat dagang melawan pedagang dari Eropa dan Timur Asing pasca persekutuan dagang Belanda, yakni VOC masuk ke Indonesia dan digantikan oleh Belanda.

“VOC itu sama dengan Kadin atau kamar dagang industri dan mereka menguasai pelabuhan-pelabuhan penting, mulai dari Aceh, Jawa, Maluku sampai Papua. Nah, setelah VOC runtuh pada tahun 1835 diganti oleh Belanda baru masuk negara melalui tanam paksa,” tegasnya.

Karena sistem tanam paksa membuat kaum pribumi semakin terdesak, lanjut Hamdan, munculnya semangat kebersamaan, senasib dan sepenanggungan di masyarakat.

“Alhasil, muncullah SDI sebagai upaya merekatkan rasa kebangsaan. Karena pada waktu itu, kaum pribumi berada di kelas ketiga setelah bangsa eropa dan timur asing,” jelasnya.

Lebih lanjut ia mengatakan setelah SDI mampu merangkul para pedagang batik untuk bersatu, lalu bermunculan semangat kebangsaan lain, seperti Boedi Oetomo pada tahun 1908 dan Sumpah Pemuda pada tahun 1928.

“Bahkan cikal bakal lahirnya organisasi yang mengusung visi misi kebangsaan, seperti Muhammadiyah, Nahdhatul Ulama (NU) dan Partai Nasional Indonesia (PNI) pun tidak terlepas dari semangat kebangsaan yang dilakukan oleh SDI ataupun setelah berganti nama menjadi Syarikat Islam pada tahun 1912,” kata Hamdan.

Sebagai contoh, lanjutnya, cikal bakal lahirnya Muhammadiyah oleh Ahmad Dahlan yang notabene adalah kader Syarikat Islam, lalu Wahab Hasbullah dan Hasyim Asyari sebagai pendiri NU saat itu merupakan Ketua Umum SI cabang Mekkah, Arab Saudi. Selanjutnya, kelahiran PNI dan PKI pun tidak terlepas dari campur tangan SI melalui HOS Tjokroaminoto yang mempunyai murid yakni Soekarno, Musso dan Alimin yang akhirnya mereka membentuk PNI dan PKI.

“Namun, terlepas dari itu semua, sekarang ini untuk membuat kembali rajutan nasionalisme dan persatuan mutlak dilakukan. Salah satu caranya adalah bangga dengan nasionalisme, karena tidak ada bangsa yang besar yang tidak bangga dengan nasional mereka,” tutup Hamdan dihadapan ratusan peserta dialog kebangsaan yang disaksikan oleh Ketua DPRD Pesisir Selatan, Dedi Rahmanto Putra, perwakilan Kajari Pesisir Selatan, forkominda, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan, organisasi kepemudaan dan mahasiswa serta masyarakat umum.

sumber: suarasi.com

Categories

Copyright © All rights reserved. | Newsphere by AF themes.